Tampilkan postingan dengan label people(karyawan). Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label people(karyawan). Tampilkan semua postingan

Rabu, 13 Oktober 2010

5, Bagimana Saat Karyawan Kita Ingin Memulai Bisnis Sendiri?

orang entrepreneur, teman dan relasi kita sebagian besar juga pasti seorang entrepreneur, demikian juga buku yang dibaca dan pembicaraan yang terjadi setiap hari selalu dengan tema entrepreneurship, strategi bisnis, ide – ide bisnis dan tema – tema yang semuanya berhubungan dengan bisnis.

Karyawan dalam bisnis kita secara langsung maupun tidak akan mendengar dan melihat gambaran kita tentang mendirikan usaha. Pada akhirnya karena sering mendengar wacana tentang bisnis dan entrepreneur mereka juga akan memiliki gambaran tentang memiliki bisnis sendiri suatu saat nanti.  Bahkan ada juga yang telah memiliki ide, strategi dan persiapan untuk memulai usaha sendirinya. Setidaknya inilah yang saya alami sekarang dan mungkin juga Anda alami.
Ketakutan kehilangan karyawan berpotensi sering menjadi alasan ketakutan kita menghadapi hal ini. Saya pribadi lebih memilih mendukung karyawan saya membuka usaha sendiri secepat mungkin bahkan ketika mereka masih bekerja di bisnis saya.  Bagaimana dengan Anda ?
Jika sama dengan saya memilih mendukung mereka tentu setidaknya kita telah memiliki persiapan yang sama / serupa. Tetapi bagi Anda yang masih merasa atau melihat seorang karyawan yang berencana membuat usaha nya sendiri merupakan suatu momok dan hambatan pada bisnis Anda sendiri, tips dan persiapan dari mentor saya berikut kemungkinan besar juga bisa Anda gunakan :
Pertama, sistem diatas segalanya. Sekalipun usaha Anda baru dibuka kemarin sore bukan alasan untuk tidak memiliki sistem kerja dalam bisnis. Membentuk atau setidaknya merencanakan secara tertulis sistem bisnis sebaiknya dimulai dari hari pertama bisnis dibuka atau dibuat hari ini juga jika bisnis sudah jalan tetapi sitem belum ada. Sekalipun Anda masih bekerja sendiri sistem sudah bisa dibuat setidaknya ada struktur organisasi jadi ketika semua pekerjaan kita lakukan sendiri setidaknya kita tahu kita sedang bekerja dalam posisi apa dalam struktur organisasi yang telah dibuat. Karyawan boleh datang dan pergi entah karena pindah kerja, buka bisnis sendiri, menikah, pindah rumah atau apapun. Sistem harus ada.
Kedua, SADAR kita tidak mungkin menghalangi karyawan memulai usahanya sendiri. Hal ini sangat penting karena mau tidak mau jika kita adalah orang yang optimis dengan bisnis ini akan menular pada orang yang dekat dengan kita. Seperti halnya tanaman yang disemai setiap hari, keinginan karyawan untuk memulai usaha sendiri mendapapatkan pupuk yang hebat dari rasa optimis kita.
Apakah ingat aturan saat kita mengikuti Ospek / Bina Mental atau menghadapi senior saat pelatihan  :
1. Senior selalu benar
2. Kembali ke aturan 1
Hehehe demikian juga  mentor saya ketika memberikan tips tentang hal ini, aturan berikutnya adalah kembali ke TIPS PERTAMA kemudian TIPS KEDUA dan kembali lagi ke tips pertama.
Mengkomunikasikan 2 tips ini pada karyawan kita bisa berbeda antara satu karyawan dengan karyawan lain, beberapa pendekatan yang saya lakukan antara lain seperti ini :
  • Mengajak dia melihat kedepan dimana suatu saat dia telah memiliki bisnis dan juga memiliki karyawan , bagaimana dia ingin karyawan-nya nanti bersikap, itulah yang saya tetap inginkan dari dia selama dia menjalani bisnisnya sendiri sembari bekerja di bisnis saya. Ini untuk karyawan yang bisa diajak berdiskusi dan memiliki tanggung jawab yang besar,
  • Mencoba menjajaki sinergi dengan bisnis kita jika memang ada peluang untuk itu,
  • Membuka peluang bisnis bersama dengan karyawan bersangkutan,
  • Membiarkan benar – benar bisa berkembang dengan usahanya sendiri.
Dengan  pendekatan tersebut Puji Tuhan, saat ini semua team dalam bisnis saya bisa tetap kompak. Justru keinginan untuk memiliki bisnis sendiri, dan bahkan telah ada yang memiliki bisnis sendiri, semakin meningkatkan semangat kerja karyawan saya.
Punya pendekatan atau tips lain yang pasti efektif dalam bisnis Anda, pastikan untuk menambahkan tips – tips Anda disini? Sehingga semakin bermanfaat dan menambah semangat untuk teman – teman pebisnis yang sedang menghadapi tantangan ini.

4. Karyawan Adalah Modal Perusahaan?

“Karyawan Adalah Modal Terpenting Perusahaan Untuk Menghasilkan Nilai Tambah Perusahaan.” – Djajendra
Karyawan adalah sumber daya yang sangat penting dan sangat menentukan suksesnya perusahaan. Karyawan juga selalu disebut sebagai human capital, yang artinya karyawan adalah modal terpenting untuk menghasilkan nilai tambah perusahaan.
Sebagai modal terpenting, fungsi dan peran karyawan selalu bertujuan untuk memaksimalkan produktivitas dan efisiensi perusahaan melalui cara kerja yang efektif. Sebab, bila karyawan tidak produktif dan tidak efisien, maka karyawan mungkin tidak lagi menjadi modal terpenting, tapi menjadi beban buat perusahaan.
Sejak dari proses rekrutmen sampai dengan proses evaluasi kinerja, para karyawan harus selalu diingatkan bahwa mereka adalah modal perusahaan, agar para karyawan memahami makna keberadaan mereka di dalam perusahaan.
Bila persoalan kepemimpinan, komunikasi, etika, dan etos kerja tidak dijalankan secara benar oleh perusahaan, maka karyawan berpotensi menjadi pekerja yang tidak efektif, dan mungkin juga berpotensi menjadi beban perusahaan.
Perusahaan yang hebat akan selalu merawat kualitas para karyawannya, apakah itu dari sisi emosi, intelektualitas, ataupun dari sisi keterampilan. Yang terpenting perusahaan yang hebat selalu berupaya untuk menjadikan setiap karyawannya sebagai modal, dan menghindarkan para karyawannya menjadi beban perusahaan.

4. Menjadi Karyawan Profesional


Posted by editor | Solusi | Tuesday 2 September 2008 10:04 am
Selama ini banyak yang mengklaim dirinya profesional. Seorang karyawan yang rajin bekerja dengan kedudukan yang bagus sudah menganggap dirinya profesional. Padahal untuk menjadi profesional, seseorang tidak cukup hanya dengan rajin dan memiliki kedudukan yang bagus. Lalu gimana supaya bisa profesional?
Memang, untuk menjadi profesional bukanlah hal yang mudah. Untuk mencapainya Anda perlu bekerja lebih keras lagi. Bukan itu saja, seorang profesional harus memenuhi beberapa kriteria, baik teknis maupun non teknis seperti persyaratan watak dan karakter.
Berikut ini adalah syarat-syarat untuk menjadi seorang profesional:
Mampu bekerja keras
Bagaimana Anda bisa dikatakan profesional jika Anda tidak terbiasa bekerja keras? Seorang profesional senantiasa mampu bekerja keras untuk menyelesaikan pekerjaannya. Seorang profesional juga mempunyai daya juang yang tinggi dan tidak mudah menyerah jika menghadapi kesulitan. Kalau Anda selalu ogah-ogahan dan malas tentu Anda bukanlah seorang profesional.
Bisa bekerjasama
Selain mampu bekerja secara mandiri, seorang profesional juga mampu bekerjasama untuk mencapai tujuan-tujuan yang hendak dicapai. Karena seberapapun hebatnya seorang profesional, ia tetap tidak bisa mengandalkan kekuatannya sendiri. Anda tetap membutuhkan kehadiran orang lain untuk mencapai visi dan misi perusahaan.
Menguasai pekerjaan
Anda layak dikatakan profesional bila menguasai dengan baik pekerjaan Anda. Maksudnya, Anda tahu secara pasti bagaimana menyelesaikan pekerjaan, seberapapun sulitnya. Anda juga tahu bagaimana mengatasi setiap persoalan. Dan Anda memang benar-benar mengerti apa yang Anda kerjakan. Intinya, seorang profesional adalah seorang problem solver atau pemecah masalah bukan trouble maker atau pencipta masalah.
Memiliki loyalitas
Dalam bekerja, seorang profesional harus memiliki loyalitas yang tinggi. Artinya Anda akan bekerja secara total dan tidak setengah-setengah. Dengan loyalitas, Anda tidak akan merasa terbebani dengan pekerjaan Anda. Dengan loyalitas pula Anda akan semakin mencintai pekerjaan Anda.
Komitmen
Anda juga tidak bisa dikatakan profesional jika tidak memiliki komitmen terhadap pekerjaan. Semakin tinggi komitmen Anda terhadap pekerjaan, maka semakin tinggi pula profesionalisme Anda. Karena dengan komitmen, Anda akan menjalani pekerjaan dengan penuh rasa tanggung jawab. Sehingga, seberapapun beratnya pekerjaan, anda akan menjalaninya dengan penuh suka cita.
Integritas yang tinggi
Seorang profesional tidak akan melakukan hal-hal yang dapat menodai profesionalismenya. Dalam bekerja, Anda senantiasa dilandasi oleh nilai-nilai kejujuran dan moral positif. Untuk itulah, seorang profesional harus memiliki integritas yang tinggi. Dengan integritas, Anda tidak akan tergoda untuk melakukan sesuatu yang dapat merusak moral dan nama baik Anda. Karena memang, untuk menjadi profesional, seseorang tidak cukup hanya dengan ahli dan pandai dalam pekerjaan saja, tetapi juga harus didukung oleh moral dan akhlak yang positif.

Motivasi yang tinggi

Tanpa motivasi sulit rasanya bagi Anda untuk mencapai tujuan. Dengan motivasi, akan membantu Anda mencapai tujuan, harapan, dan cita-cita Anda. Anda pun akan lebih bersemangat dalam bekerja dan berkarya. Ingat, seorang profesional mampu menjadi motivator bagi dirinya sendiri. Sehingga Anda tidak akan ‘down’ dan suntuk jika menghadapi situasi yang sulit. Anda mampu membangkitkan gairah dan semangat Anda sendiri, di saat yang lain sudah nyaris kehilangan gairah kerja. Makanya nggak jarang, seorang profesional juga bisa menjadi motivator bagi yang lain.
Bisa membedakan mana kepentingan kantor dan pribadi
Seoran profesional bisa membedakan secara jelas mana kepentingan kantor dan mana yang menyangkut kepentingan pribadi. Contohnya jika Anda menggunakan fasilitas kantor untuk kepentingan pribadi. Anda sudah termasuk tipe karyawan yan tidak profesional. Terlebih ada barang–barang kantor yang sengaja Anda bawa ke rumah. Itu lebih parah lagi. Anda sudah termasuk karyawan yang tidak profesional.
Mudah-mudahan solusi singkat ini bisa menjadikan Anda seorang karyawan yang profesional. Selamat mencoba! (Rahmat Saepulloh)

2. 25% Karyawan Berpotensi Curi Data Perusahaan

WASHINGTON - Sistem keamanan data perusahaan wajib dijaga oleh setiap perusahaan. Pasalnya, data yang berisi informasi-informasi penting perusahaan rawan dicuri.

Tingginya persaingan bisnis, terkadang membuat perusahaan-perusahaan bersaing untuk mengintip 'dapur' perusahaan rivalnya. Banyak cara untuk mencuri data-data tersebut, salah satunya adalah mengambilnya lewat orang dalam perusahaan, alias karyawan perusahaan yang ingin dicuri.

Berdasarkan survei yang dilakukan perusahaan keamanan Cyber-Ark Software, sebanyak 25 persen karyawan suatu perusahaan berpotensi mencuri data-data sensitif perusahaan. Media yang paling sering digunakan untuk mengambil data tersebut adalah USB flash memory.

Penggunaan USB dinilai sangat mudah dan menjadi pilihan utama untuk mentransfer data perusahaan. Demikian Dilansir PCWorld, Senin (30/11/2009).

Selain itu, survei juga mengungkapkan bahwa sebanyak 26 persen karyawan perusahaan menyatakan berani mencuri data perusahaan jika dipecat oleh perusahaan. Sedangkan 24 persen menyatakan berani mengambil data perusahaan jika posisinya diperusahaan tersebut terancam.

Sedangkan 28 persen karyawan diperkirakan baru berani mengambil data setelah menimbang-nimbang dengan posisi baru yang ditawarkan jika ia mencuri data perusahaannya sendiri.

Hasil survei lainnya, menunjukkan bahwa data-data paling penting adalah data-data perusahaan yang memiliki basis pelanggan. Artinya data-data pelanggan sering menjadi incaran perusahaan psaing.

"Perusahaan harus segera membuktikan bagaimana ia mengawasi dan mengontrol akses database, jaringan dan sistem termasuk kepada orang yang memiliki hak istimewa mengaksesnya," kata Adam Bosnian, vice president of products and strategy, Cyber-Ark Software. (ugo)

1. Mengatasi Karyawan yang Jenuh dalam Bekerja


Minggu,
10
Oktober
Banyak pengusaha mendapati, segera setelah bisnis mereka menjadi mantap dan dijalankan secara profesional, terjadi perkembangan yang tidak diharap-harapkan. “Esprit de corps”, yang semula mampu membangkitkan semangat para karyawan untuk bekerja keras, tiba-tiba memudar. Akibatnya, tidak mustahil tenaga-tenaga terbaik mulai meninggalkan perusahaan. (Jika Anda ingin mendapatkan slide powerpoint presentai yang bagus tentang management skill dan leadership skills, silakan KLIK DISINI ).
Wajar bahwa kebosanan mulai dirasakan ofeh sejumlah tenaga inti. Tahap awal perkembangan suatu perusahaan, ketika semua dituntut untuk memberikan performans maksimal, merupakan saat-saat yang menggairahkan bagi karyawan-karyawan yang dinamis. Tetapi segera setelah perusahaan memasuki tahap pertumbuhan beri-kutnya, mereka mulai bosan dengan kerja rutin. Tenaga-tenaga profesional yang ambisius tidak ragu-ragu untuk pindah kerja tiap 2/2 tahun sekali karena mereka yakin, itulah satu-satunya ca-ra bagi mereka untuk bisa maju.
Kepergian tenaga-tenaga profesional yang kompeten bisa merugikan perusahaan, baik ditinjau dari segi produktivitas, morale karyawan, maupun kerugian finansial. Kerugian ini timbul antara lain karena perusahaan terpaksa menge-luarkan biaya lagi untuk merekrut dan mendidik tenaga-tenaga pengganti. Perkembangan seperti itu cukup menjengkelkan, apalagi kalau perusa¬haan sedang bergerak menuju tahap pertumbuhan berikutnya. Dalam keadaan ekstrim, kepergian satu atau dua tenaga inti dapat menempatkan perusahaan kembali ke tahap awal pengembangannya.
Langkah pertama untuk mencegah terjadinya peristiwa yang tidak diinginkan itu ialah meneliti dan mencari tahu apakah tenaga-tenaga inti itu merasa tidak puas, dan menanyakan apa alasan-alasan ketidakpuasan itu.
Mitchell Lee Marks, profesor psikologi-orga-nisasi di California School of Professional Psy¬chology di Los Angeles menyatakan, problem yang biasa dihadapi oleh perusahaan-perusaha-an yang sedang tumbuh adalah: para entrepre¬neur demikian sibuk rrlemusatkan perhatian pa-da usaha membangun bisnis sehingga mereka lupa memperhatikan keadaan karyawan. Untuk itu dia menganjurkan, “Jangan ragu-ragu menanyakannya kepada karyawan. Tanyailah anak buah dan anjurkan mereka untuk mengemukakan keluhan-keluhan, kalau ada.”
Dalam fungsinya sebagai perekrut tenaga-tenaga eksekutif, dia telah mendengar bermacam-macam alasan mengapa tenaga-tenaga inti itu mengalami frustrasi dan pergi meninggalkan posnya yang pertama. Tetapi alasan-alasan utama mengapa mereka pergi meninggalkan perusahaan-perusahaan kecil atau medium itu umumnya sama, yakni bahwa mereka tidak merasa tertantang lagi setelah perusahaan-perusa-haan itu tumbuh dan menjadi mantap. Mereka beranggapan akan terjadi stagnasi. Ada yang berpendapat, mereka tidak bisa menyesuaikan diri dengan corporate culture yang baru.
Lain-lainnya mungkin merasa kurangmendapat penghargaanyang sesuai dengan usaha-usaha yang dijalankannya selarha itu. Sebagian menyatakan merasa fcehilangan suara dalam perusaha¬an yang dikelola lebih profesional itu. Mereka merasa peranan mereka semakin mengecil.
Keluhan-keluhan itu masuk akal. Tetapi masalahnya sekarang, bagaimana cara kita dapat menciptakan kembali suasana yang semula membuat perusahaan itu sebagai tempat kerja yang menggairahkan? Bagaimana cara kita menghidupkan kembali loyalitas karyawan? Membangun semangat team? Meningkatkan motivasi dan performans? Singkatnya, bagaimana cara kita menciptakan suasana yang membuat karyawan betah?
Ternyata banyak caranya. Berikut ini sejum-lah langkah yang tampaknya banyak membawa hasil:
• Usahakan untuk memperluas tanggung jawab tenaga-tenaga profesional yang inti. Misalnya kita bisa memberikan kepada mereka tugas tambahan yang menegaskan kekuatan mereka, seperti menggali pendapat untuk menyusun strategi pemasaran yang baru atau meningkatkan mutu produk.
• Susun suatu program pengembangan karier untuk membantu tenaga-tenaga inti mengenal dan meningkatkan bakat dan ketrampilan mereka, dan kemudian menentukan jenis pekerjaan yang bagaimana yang tepat untuk bakat/ketram-pilan mereka.
Umumnya perusahaan-perusahaan kecil/menengah tidak memiliki program sendiri. Tetapi banyak perusahaan yang menawarkan pelajaran-pelajaran untuk pengembangan karier. Dengan mengirimkan tenaga-tenaga inti kita ke sekolah-sekolah semacam itu, kita berarti memberi ke-sempatan kepada mereka untuk mengenali sam-pai seberapa jauh mereka bisa mengembangkan diri di dalam perusahaan tersebut. Kitabisa juga mendiskusikannya dengan karyawan yang bersangkutan untuk menciptakan pekerjaan yang sesuai sehingga ia merasa tertantang.
“Lebih dari separo dari yang saya ajak bicara terbukti tidak tepat untuk pekerjaan yang mereka tekuni, sehingga mereka tidak berkesempatan mengembangkan potensi mereka semaksi-mal mungkin,” kata William Ellermeyer dari perusahaan Jasa Manajemen Karier yang berkedudukan di Irvine, California. “Tetapi mereka yang memang pas dengan pekerjaan mereka, kemudian mampu berkembang semaksimal mungkin setelah mengikuti pendidikan dan latihan tersebut,” tambahnya.
• Berilah penghargaan kepada mereka yang bekerja dengan baik. Wajar bahwa karyawan yang bekerja baik merasa kesal kalau mereka dinilai sama dengan karyawan-karyawan yang tidak mempunyai prestasi, yang kerjanya hanya du-duk-duduk dari jam 8 sampai jam 4.
Komentar berikut ini sering terdengar: “Struktur penggajian di perusahaan ini sudah baku. Bagaimanapun besarnya kontribusi kita kepada perusahaan, penghasilan kita segitu-gitu juga. Tidak ada keistimewaan untuk karyawan-karyawan yang bekerja keras.”
Penghargaan bagi karyawan bentuknya bisa bermacam-macam. Misalnya: memberikan kesempatan kepada mereka untuk bervakansi ke luar negeri, memberikan bonus berupa uang, atau kendaraan, atau ruang kantor yang apik, dan sebagainya.
• Telitilah apakah kreativitas karyawan tersalurkan. Apakah antar karyawan terjadi komunikasi yang menggairahkan lingkungan kerja? Seorang tenaga eksekutif yang merasa tidak puas mengatakan, “Kami tidak saling bicara. Masing-masing bekerja sendiri, seakan-akan kami beker¬ja dalam suatu vakum.”
Perusahaan-perusahaan yang bersikap modern, sebaliknya, selalu menganjurkan terjadinya komunikasi yang terbuka dengan menciptakan lingkungan yang memungkinkan partisipasi karyawan. Menurut Ellermeyer, ini dapat diciptakan dengan cara halus, misalnya dengan menumbuhkan corporate culture yang membuat setiap karyawan merasa sebagai warga penting dalam perusahaan.
Beberapa perusahaan elektronik terkemuka di Silicon Valey, misalnya, menanamkan sema¬ngat kelompok ini dengan menyelenggarakan pesta minum bir tiap hari Jum’at di tempat par-kir mobil. Dari pimpinan puncak sampai karya-wan pada tingkat paling bawah ikut hadir. Ba¬nyak perusahaan yang terkenal mempunyai ma-najemen yang baik umumnya merasa bangga dengan sistem egaliter dan informal yang mereka jalankan.
Kesediaan berdiskusi dengan tenaga-tenaga inti juga akan menumbuhkan loyalitas pada me¬reka dan membuat mereka merasa bahwa mereka mempunyai masa depan yang baik di perusa¬haan tersebut. Fleksibilitas kita akan memberi-kan hasil yang menggembirakan. Misalnya, te¬naga-tenaga yang kreatif mungkin akan menyu¬sun rencana-rencana diversifikasi atau inovatif yang akan membantu memajukan perusahaan.
Namun demikian, sekalipun segala cara telah dicoba, ada kemungkinan karyawan yang ber-sangkutan memang merasa harus pergi karena alasannya sendiri. Dalam keadaan demikian, tak ada jalan lain kecuali berpisah dengan cara baik-baik.
Yang jelas, untuk bisa mempertahankan tenaga-tenaga yang baik, kita sendiri harus berusaha menjadi manajer yang baik. Pimpinanlah yang menentukan suasana perusahaan. Kita harus peka terhadap kebutuhan-kebutuhan yang dirasakan karyawan. Carilah di mana kita bisa bersikap fleksibel supaya keinginan karyawan tertampung dan dengan demikian meningkatkan kepuasan kerja mereka. Kalau semua ini sudah kita jalankan, dan karyawan toh ingin hengkang, mungkin saja problem itu ada pada dirinya, dan bukan pada kita.
(Jika Anda ingin mendapatkan slide powerpoint presentai yang bagus tentang management skill dan leadership skills, silakan KLIK DISINI ).
Sumber : Majalah Eksekutif Edisi April 1989.